Kupang, 2 September 2026 — Dalam apel pagi, dalam program literasi setiap siswa diberikan kesempatan mengedukasi teman-temannya untuk menyampaikan informasi terkait pembangunan manusia di lingkungan sekolah. Hari ini isu pertemanan di masa remaja menentukan pembentukan karakter dan masa depan seorang siswa menjadi tema edukasi. Hal ini diberikan kesempatan siswa untuk bisa mengembangkan kemampuan komunikasi di depan umum dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Hari ini 2 September 2026, Filia Clarita (PIK-R SMANDU) membedah tentang : Pertemanan Sehat vs Toxic. Filia Clarita Suidano, mengawali dengan pertanyaan apakah lebih baik memilih sahabat atau racun'?.
Filia membagikan edukasi penting mengenai perbedaan mendasar antara pertemanan yang sehat verses pertemanan yang beracun (toxic). Menurut Filia, lingkungan sosial yang tepat akan membawa dampak positif, sementara salah memilih teman justru bisa merugikan kesehatan mental diri sendiri.
Pertemanan yang Baik: Membawa Energi Positif
Filia menjelaskan bahwa teman yang baik adalah mereka yang selalu mendukung dan membawa kita ke arah yang lebih positif. Ciri-ciri pertemanan yang sehat ini antara lain:
- Saling Menghargai: Tidak membicarakan kekurangan orang lain atau merendahkan penampilan, bakat, maupun hobi.
- Menjadi Tempat Aman: Kita bisa mencurahkan isi hati (curhat) apa saja karena adanya rasa saling percaya.
- Ikut Bahagia: Mereka akan merasa bangga saat kita berhasil, tanpa ada rasa iri atau dengki.
- Memberi Pengaruh Baik: Mengajak belajar bersama, serta tidak pernah mengajak bolos atau berkelahi di sekolah.
- Menghargai Kebebasan: Tidak berusaha mengatur hidup kita sesuai dengan keinginan mereka.
- Nyaman Menjadi Diri Sendiri: Muncul rasa senang saat bersama mereka tanpa perlu merasa tegang atau takut salah bicara.
Pertemanan Toxic: Ketahui Tanda-Tanda Bahayanya
Kebalikan dari pertemanan yang sehat, hubungan yang toxic justru melelahkan dan membawa dampak buruk. Filia merinci beberapa tanda yang harus diwaspadai:
- Suka Mengejek: Sering melontarkan ejekan yang membuat sakit hati, terkadang dengan dalih "hanya bercanda".
- Bermuka Dua: Di depan terlihat mendukung, namun di belakang membicarakan hal-hal buruk tentang kita.
- Egois & Memaksa: Menuntut agar semua keinginannya dituruti dan sering memaksa kita melakukan hal-hal buruk.
- Memanipulasi: Suka membuat kita selalu merasa bersalah padahal kita tidak melakukan kesalahan.
- Ember (Bocor Mulut): Menyebarkan gosip dan membongkar rahasia pribadi yang pernah kita percayakan kepada mereka.
- Menciptakan Ketakutan: Tidak ada rasa aman dalam hubungan, yang ada justru rasa takut dan cemas.
Bagaimana Cara Menjadi Teman yang Baik?
Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Filia membagikan tips untuk menjadi sahabat yang baik:
- Jadi Pendengar yang Baik: Dengarkan saat teman bercerita tanpa memotong pembicaraan atau langsung menghakimi.
- Saling Menopang: Jadilah pendukung yang membantu saat teman sedang kesusahan, bukan malah menjatuhkannya.
- Berani Menegur: Jangan ikut mengejek orang lain, dan beranilah menegur jika ada teman yang melakukan bullying.
- Hargai Perbedaan: Berbeda pendapat itu hal yang wajar dalam pertemanan, tidak semua hal harus selalu sama.
- Berani Bilang "Tidak": Tolak dengan tegas jika diajak melakukan hal yang salah. Teman yang tulus tidak akan marah jika kita menolak hal buruk.
Langkah Cerdas Menghadapi Teman yang Toxic
Jika terjebak dalam lingkaran pertemanan yang tidak sehat, Filia menyarankan beberapa tindakan nyata yang bisa diambil:
- Sadar Lebih Cepat: Jika sudah sering merasa bersalah dan takut, sadarilah bahwa pertemanan tersebut sudah tidak sehat.
- Bicara Jujur: Sampaikan dengan terbuka jika ada tindakan mereka yang membuat kita tidak nyaman.
- Menjauh demi Kebaikan: Menghindarlah secara perlahan tanpa harus memicu pertengkaran atau keributan.
- Jangan Memaksakan Diri: Kita tidak perlu memaksakan diri untuk berteman dengan orang yang tidak bisa menghargai kita, karena diri kita sangat berharga.
- Cari Bantuan: Jika masalahnya terlalu berat dan tidak bisa diselesaikan sendiri, berceritalah kepada orang dewasa yang dipercaya (seperti guru BK atau orang tua).
Simpulan : Sebagai remaja, kita memegang kendali penuh atas siapa saja yang berhak ada di lingkaran terdekat kita. Teman yang baik akan membuat kita merasa bahagia dan berkembang, sedangkan teman yang toxic hanya akan merenggut rasa aman kita.
"Kita harus memilih pertemanan yang baik buat kita, karena diri kita sangat berharga, mempunyai banyak teman berkualitas itu lebih baik dibandingkan mempunyai banyak teman tetapi tidak bisa membangun ekosistem pertemanan yang sehat" pesan Filia menutup edukasinya.





.jpeg)
